KETERPADUAN PENGENDALIAN KARHUTLA MENUJU ZERO EMISSION

Komitmen Indonesia dalam pencapaian target Nationally Determined Contributions (NDC) dan cita-cita menuju Net Zero Emissions kembali ditegaskan dalam talkshow yang mengusung tema “Mainstreaming Keterpaduan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Menuju Zero Emission”. Talkshow ini sebagai rangkaian acara Festival LIKE (Lingkungan-Iklim-Kehutanan-Energi Baru Terbarukan) Road to COP28 Dubai - UEA 2023 yang diselenggarakan di Indonesia Arena-GBK, Jakarta (17/9/2023).

Diungkapkan oleh Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Laksmi Dhewanthi sebagai pembicara kunci bahwa talkshow ini mengupas tentang bagaimana  mengarusutamakan keterpaduan dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan untuk masa depan yang lebih baik.

“Kita mempunyai visi dan formulasi kebijakan jangka panjang yang disebut dengan Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat. Ini yang menjadi penting yang melatarbelakangi dilakukannya sharing knowledge hari ini,” ujar Laksmi.

Laksmi menekankan bahwa pengendalian perubahan iklim khususnya karhutla bukan hanya tugas Manggala Agni, sang patriot Indonesia. Tetapi kita juga mempunyai peran masing-masing, baik peran dari praktisi, pengambil kebijakan, pelaku usaha, masyarakat, maupun akademisi, semuanya bisa memberikan aksi dan kontribusi.

“Keterpaduan sebagai kunci dalam diskusi ini merupakan elemen keberhasilan. Melalui keterpaduan, tantangan dapat dilawan bahkan dihilangkan secara bersama-sama,” lanjut Laksmi.

Laksmi menjelaskan sejarah mencatat bahwa Indonesia telah mengalami bencana kebakaran hutan dan lahan yang cukup besar pada tahun 1981/1982, 1997/1998, 2007, 2013, 2015 dan 2019. Meskipun gradasinya berbeda-beda tergantung situasi dan kondisi El-Nino maupun La-Nina, potensi karhutla di Indonesia menjadi potensi yang latent, karena ada beberapa ekositem yang rawan terhadap karhutla. 

“Oleh karena kita tahu terhadap adanya potensi bencana maka kita perlu benar-benar memahami dan menyiapkan diri agar ketika bencana sudah hampir datang, kita bisa menanggulanginya,” pesan Laksmi.

Laksmi menyebutkan bahwa keterpaduan, sinergi dan aksi-aksi seluruh pemangku kepentingan menjadi kata kunci dan menjadi penting dalam keberhasilan pengendalian karhutla. Sesuai arahan Presiden RI untuk membuat solusi permanen pengendalian karhutla, dengan memprioritaskan upaya pencegahan karhutla.

“Kata kunci terakhir adalah Net Zero Emission, sebagai salah satu himbauan bahwa jika kita tidak melakukan aksi mitigasi perubahan iklim, maka di akhir abad ini suhu rata-rata permukaan bumi akan naik lebih dari 2℃. Semua komunitas di muka bumi ini didorong untuk melakukan upaya mitigasi dan adaptasi, salah satunya adalan dengan mengurangi emisi gas rumah kaca,” terang Laksmi.

Laksmi menjelaskan Indonesia melalui komitmen atau kontribusi yang ditetapkan secara nasional melalui NDC bahwa pada 2030 akan mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% dengan upaya sendiri atau 43,2% dengan dukungan internasional. Pada 2050 secara global sudah tercapai Net Zero Emission, yang artinya emisi yang keluar itu lebih kecil atau sama dengan kemampuan kita menyimpan dan menyerap emisi gas rumah kaca. Rencana Indonesia sudah mencapai Net Zero Emission pada 2060 atau lebih cepat.

“Salah satu tulang punggung pengurangan emisi adalah pengendalian karhutla. Marilah kita mulai dari langkah kecil tapi terus menerus kita melangkah. Sekecil apapun kontribusi jika dikumpulkan akan menjadi kuat,” pungkas Laksmi.

Talkshow yang dimoderatori oleh penyiar berita stasiun TV Berita Satu, Stefani Ginting ini dihadiri secara tatap muka sebanyak 100 peserta, dan secara daring diikuti 280 peserta. Narasumber berasal dari BNPB, IPB University, PT. APP Sinar Mas dan Balai Pengendalian Perubahan Iklim Wilayah Sumatera.