INDONESIA SELENGGARAKAN KICK-OFF MEETING ASEAN COMMUNITY-BASED CLIMATE ACTION

MS2R – Indonesia selenggarakan Kick-Off Meeting ASEAN Community-based Climate Action (CBCA) secara daring (31/01) untuk memaparkan rencana kerja dan temuan awal studi CBCA kepada Negara Anggota ASEAN. CBCA merupakan bagian dari Action Plan ASEAN Working Group on Climate Change (AWGCC) 2021-2025 yang bertujuan untuk saling bertukar pengalaman dan pembelajaran mengenai aksi iklim berbasis komunitas lokal guna memperkuat kapasitas Negara Anggota ASEAN dalam adaptasi iklim dan memperkuat praktik baik dari tingkat nasional hingga regional. Lebih lanjut, CBCA merupakan salah satu deliverables dari sektor perubahan iklim yang diusung Indonesia melalui Keketuaan pada ASEAN di tahun 2023. 


Membuka acara, Dr. Hartini  dari  The Ministry of Natural Resources and Environmental Sustainability (NRES) Malaysia selaku Ketua AWGCC menyampaikan terima kasih atas peran Indonesia dalam mengarahkan upaya kolektif aksi iklim berbasis komunitas. Ketua AWGCC juga mengatakan bahwa kawasan ASEAN tidak kebal terhadap dampak perubahan iklim, maka kebutuhan akan tindakan yang terkoordinasi untuk mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim menjadi kian penting.  


“Adalah kewajiban kita, sebagai masyarakat, untuk bekerja sama membangun ketahanan, mengurangi emisi, dan mendorong pembangunan berkelanjutan.”, ujar Hartini.


Wisnu Murti selaku Koordinator Program Kerja ASEAN di Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim, sebagai perwakilan Indonesia menyampaikan kepada Negara Anggota ASEAN mengenai rencana kerja ASEAN Community-based Climate Action dan memaparkan temuan awal. Salah satu hal menarik dari temuan awal adalah sebagain besar Negara Anggota ASEAN telah menerapkan aksi iklim berbasis komunitas, baik dalam aspek adaptasi maupun mitigasi. Ini mencakup kegiatan di sektor pertanian, kehutanan, air, dan energi


"Pemerintah Indonesia sebagai inisiator kegiatan melakukan kajian untuk menganalisa praktik-praktik baik aksi iklim berbasis komunitas yang sudah ada serta inovasi di wilayah tersebut, dan kemudian merumuskan rekomendasi untuk mereplikasi dan meningkatkan aksi iklim berbasis masyarakat (CBCA)", terang Wisnu.


"Output dari kegiatan ini adalah pembelajaran yang terdokumentasi dari aksi iklim berbasis masyarakat, dan Panduan Teknis CBCA di ASEAN. Hasil yang diharapkan akan memperkuat pengelolaan pengetahuan di kawasan dan mendorong lebih banyak kolaborasi untuk meminimalkan dampak perubahan iklim di ASEAN. Studi ini didukung oleh GIZ ASEAN-German Climate Action Programme", tambah Wisnu.


Dalam penutupan acara tersebut, Wukir Amintari Rukmi, Kasubdit Fasilitasi Perundingan Perubahan Iklim menyampaikan bahwa Indonesia berharap studi ini dapat membantu AWGCC dalam berbagi pengalaman, dan bekerja sama menuju komunitas ASEAN yang berkelanjutan dan berketahanan iklim. 


Mengingat pertemuan ini masih bersifat awal, Indonesia akan menyelenggarakan 1st Workshop: stocktaking of ASEAN CBCA, Implementation, Adoption and Gap Analysis on Science di Indonesia secara luring pada Bulan Februari 2024. Lebih lanjut Indonesia mengharapkan dukungan Negara Anggota ASEAN lainnya dalam workshop tersebut untuk dapat membagikan lesson learnts dari masing-masing Negara Anggota ASEAN guna memperkaya studi.


============================================================================================================

Acara ini didukung oleh Pemerintah Jerman di bawah inisiatif proyek ASEAN - German Climate Program (CAP), yang dilaksanakan oleh GIZ bekerja sama dengan Sekretariat ASEAN dan AWGCC.