DUA BULAN MANGGALA AGNI TERUS UPAYAKAN PEMADAMAN KARHUTLA DI DESA JUNGKAL OKI

Manggala Agni terus mengupayakan pemadaman karhutla yang terjadi di Desa Jungkal, Kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Pemadaman oleh Manggala Agni di lokasi ini sudah dilaksanakan selama dua bulan sebagaimana disampaikan oleh Kepala Balai Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) Wilayah Sumatera KLHK, Ferdian Krisnanto (1/11/2023). 

“Pemadaman karhutla di Kabupaten OKI yaitu di Desa Jungkal, Kecamatan Pampangan telah dilaksanakan upaya pemadaman selama dua bulan,” ujar Ferdian.

Ferdian menyebutkan bahwa lokasi karhutla di Desa Jungkal merupakan sambungan atau rambatan dari kebakaran di Desa Cinta Jaya, Kecamatan Pedamaran yang sebelumnya telah dilakukan pemadaman juga selama satu bulan. Lokasi ini merupakan satu hamparan areal yang terbagi menjadi beberapa titik karhutla.

“Lokasi karhutla ini berada di areal PT. Waringin Agri Jaya (WAJ) yang sekarang statusnya sudah pailit,” sambung Ferdian.

Ferdian menjelaskan strategi yang diterapkan sejak awal operasi pemadaman yaitu dengan memberlakukan personel Manggala Agni menginap di dekat lokasi karhutla. Langkah ini diambil untuk dapat mengoptimalkan operasi pemadaman saat pagi hari sebelum jam 10 dan sore hari di mana kondisi angin masih lebih kondusif dibandingkan siang hari.

Pada operasi pemadaman yang berada di wilayah OKI ini, Balai PPI Wilayah Sumatera telah menurunkan personel Manggala Agni gabungan dari Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi. Dari Sumatera Selatan meliputi Manggala Agni dari Daops Sumatera XVII/ OKI, Daops Sumatera XVI/ Lahat, Daops Sumatera XIV/ Banyuasin dan Daops Sumatera XV/ Musi Banyuasin. Sementara dari Bawah Kendali Operasi (BKO) Jambi berasal dari Daops Sumatera XIII/ Sarolangun dan Daops Sumatera XII/ Tebo.   

“Pemadaman di Desa Jungkal sepertinya masih membutuhkan waktu. Hal itu disebabkan lokasi kebakaran terjadi pada gambut dengan kedalaman lebih dari tiga meter dengan kondisi yang jauh lebih kering, bahan bakaran tersedia dalam jumlah yang melimpah, kabut asap yang membatasi jarak pandang, angin serta terbatasnya sumber air untuk pemadaman,” pungkas Ferdian.